Saturday, April 23, 2011

Lima Pelajaran Hidup dari Sang Lebah

Lebah adalah binatang kecil yang terukir indah dalam Alquran. Allah mengabadikan namanya pada salah satu surah dalam Alquran, yakni Annahl. Tentu, ada keistimewaan yang dimiliki hewan ini hingga namanya termaktub dalam kitab yang suci dan mulia. Lihat surah Annahl [16] ayat 68-69.

Lebah diciptakan Allah SWT dengan banyak memberi manfaat bagi manusia. Di antara manfaatnya adalah madu. Tak hanya itu, perilaku hewan kecil ini harusnya menjadi cerminan akhlak bagi Muslim sejati.


Perhatikanlah kehidupannya. Ada banyak manfaat yang bisa diambil hikmahnya dari lebah. Pertama, lebah hanya menghisap saripati bunga. Ia hanya mengambil yang inti dan membiarkan yang lain. Lebah tahu, yang menjadi kebutuhannya hanyalah saripati, bukan yang lainnya. Ini mengajarkan bahwa setiap Muslim harus mengambil sesuatu yang baik dan halal. Sebab, mengambil hak yang lain hukumnya adalah haram.

Kedua, lebah menghasilkan madu. Ia memberi manfaat bagi manusia. Ini pelajaran bagi umat Islam. Madu berasal dari saripati bunga dan baik, maka keluarnya pun baik. Sesuatu yang halal, keluarnya halal pula. Dan, ia banyak memberi manfaat bagi orang lain.

Ketiga, lebah tidak merusak. Di mana pun dia hinggap, tak ada tangkai daun ataupun ranting pohon yang patah. Betapa santunnya hewan kecil ini hingga dalam bergaul dia tidak menyakiti siapa pun dan senantiasa menjaga kedamaian dalam setiap suasana. Lebah senantiasa memegang prinsip iffah (ketenteraman) dalam pergaulan.

Keempat, lebah punya harga diri. Ia tidak akan pernah mengganggu orang lain selama kehormatan dan harga dirinya dihormati. Namun, bila harga dirinya dizalimi, ia akan siap 'menyengat' pengganggunya. Karena itu, setiap Muslim harus mampu menjaga kehormatan dirinya.

Sudah sepatutnya kita belajar ilmu dari lebah. Bukan karena fisik dan pesonanya yang kurang menarik, tapi karena komitmennya dalam bersikap dan berbuat. Manusia memiliki kemuliaan dari makhluk lain. Namun, tingkah laku dan kehormatan manusia bisa lebih hina dari binatang.

Allah memberikan pelajaran bagi manusia untuk mengambil hikmah dari lebah. Ia makhluk kecil yang memberikan manfaat sangat besar bagi manusia. Tentunya, tak hanya dari lebah, setiap hamparan yang ada di alam semesta ini diciptakan oleh Allah SWT untuk kebutuhan manusia. Maka, bisakah kita mengambil pelajaran ?
Wallahu A'lam.

Oleh Wahyudin Wahid
Sumber : republika.co.id

Bahaya yang Mengintip di Balik Dusta

Bohong atau dusta adalah perbuatan nista. Tapi, mengapa orang masih banyak melakukannya? Di mana-mana, kita menyaksikan orang berdusta: di pasar, kantor, kampus, bahkan di tempat ibadah pun ada yang berani berdusta untuk menutupi perbuatan tercela. Kebohongan seakan menjadi perisai pembelaan diri. Terkadang, seorang tokoh panutan, juga tak luput melakukan kebohongan.

Di perusahaan, pemerintahan, dewan, dan di pengadilan, masih ada yang bangga dengan kebohongan. Padahal, tali kebohongan itu pendek. Dalam sebuah kata bijak, "semua tali itu panjang, kecuali tali kebohongan."



Jika kita sudah menyadarinya, mengapa kita masih suka berdusta? Allah telah mengancam pendusta atau pembohong itu dengan kutukan. "La'natullah 'alal Kadzibin" (Laknat Allah atas para pendusta).

Orang yang suka berdusta itu sesungguhnya mendapatkan dua kali kerugian. Pertama, jika kebohongannya tidak diketahui, dia akan mendapatkan dosa dari perbuatan tercela ini.

Kedua, jika bohongnya diketahui orang lain, mereka akan kehilangan kepercayaan. Bahkan, kepadanya akan disematkan predikat pendusta atau pembohong. Akibatnya, hubungan dirinya dengan sesama manusia (hablum minannas) akan terhambat. Orang akan menjauhi dan tidak bersimpati lagi padanya.

Ketika didatangi seseorang yang mohon nasihat kepada Rasulullah SAW, beliau hanya berkata singkat: "Jangan berdusta". Kalimat singkat, namun bersahaja, dan memiliki implikasi manfaat yang sangat besar.

Orang yang berkata-kata jujur (benar) dan tidak suka berbohong, secara psikologis tidak punya beban berat dalam hidupnya. Karenanya, hatinya senantiasa merasa tenteram dan damai.

Sebaliknya, orang yang biasa berdusta, hidupnya menjadi tidak tenang dan dunia terasa sempit. Ia akan senantiasa merasa dihantui oleh perasaannya sendiri, lantaran khawatir kebohongannya diketahui orang lain.

Dalam Alquran, terdapat 30 ayat yang menyangkut kebohongan ini. "Sesungguhnya orang yang berbohong itu, mereka yang tidak beriman dengan ayat-ayat Allah." (QS 16:105). "Pendusta tidak beruntung." (QS 16: 116). "Yang menyiarkan berita bohong akan mendapat azab yang besar." (QS 24:11). "Menyembah selain Allah adalah jalan dusta." (QS 37:86).
Wallahua'lam.

Oleh HM Baharun
Sumber : republika.co.id

Kedalaman Makna Surat Al Ikhlash

Allah SWT berfirman: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus." (QS Al- Bayyinah [98]: 5). Dalam ayat lainnya: "Luruskanlah mukamu (dirimu) pada setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya." (QS Al-'Araf [7]: 29).

Ahli tafsir menjelaskan, yang dimaksud dengan lurus adalah menghindari perbuatan syirik (menyekutukan Allah SWT dalam segala bentuknya dan terhindar dari penyimpangan sekecil apa pun). Kewajiban menjaga keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT ditegaskan berulang-ulang di dalam Alquran.



Bahkan, surah ke-112 dinamai dengan Al-Ikhlash (memurnikan keesaan Allah). Secara fisik surah Al-Ikhlash itu terdiri atas empat ayat pendek, namun kandungannya sangat panjang dan luar biasa.

Rasulullah SAW bersabda, "Membaca 'Qul huwa Allahu ahad' pahalanya setara dengan membaca sepertiga Alquran." (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa'I, Ibn Majah, Malik, Ahmad, Thabrani, Al-Bazzar, dan Abu 'Ubaid).

Oleh karena itu, Saja' Al-Ghanawi RA mengatakan, "Barang siapa membaca 'Qul huwa Allahu ahad' tiga kali, maka ia seakan-akan membaca Alquran seluruhnya." Atau, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad, bahwa Muadz ibn Anas RA berkata, "Barangsiapa membaca 'qul huwa Allahu ahad' sebelas kali, maka Allah (akan) membangunkan sebuah rumah untuknya di Surga."

Atau, seperti yang diriwayatkan Thabrani, bahwa Fairuz RA berkata, "Barangsiapa membaca 'Qul huwa Allahu ahad' seratus kali, di dalam shalat atau lainnya, maka ia dicatat oleh Allah sebagai orang yang terbebas dari siksa Neraka." Dan, masih ada beberapa riwayat yang lainnya. Namun, perlukah kita menghitung-hitung "kebaikan" atau "ketaatan" kita sendiri?

Menurut Ibn Sina sebagaimana dikutip Muhammad Quraish Shihab dalam salah satu karyanya, niat atau motivasi beribadah itu bertingkat-tingkat. Pertama, tipe pedagang (mengharap keuntungan). Kedua, tipe budak atau pelayan (takut terhadap majikannya).

Ketiga, tipe 'arif (bersyukur atas segala yang diberikan Allah SWT kepadanya). Dan tipe lainnya dinamakan sebagai tipe robot (otomatis, tanpa pemikiran, tanpa pemahaman, dan tanpa penghayatan).

Tentu bijaksana, jika kita terbiasa melaksanakan ibadah menurut tipe 'arif. Sebab, sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya bahwa tidak sedikit amal (ibadat) yang dibatalkan atau dihapuskan pahalanya akibat niatnya tidak murni karena Allah SWT.
Wallahu 'alam.

Oleh Mahmud Yunus
Sumber : republika.co.id